Saturday, April 9, 2016
Sunday, December 13, 2015
Teman Malam Ini
| Sumber : Dokumentasi Pribadi |
Teman malam ini :
- Chrome => running project RPL
- Garena+ => nanti setelah selesai (kalau nggak ngantuk sih) hahaha
- Word 2013 => panduan diagram
- XAMPP Control Panel => biar laptop bisa jadi localhost
- Enterprise Architect => bikin diagram ini-itu
- Notepad++ => editor PHP selama ini
- AIMP3 =>biar nggak sepi aja
![]() |
| Sumber : 123rf.com |
Oh yeeaahhhh~
Malang, 13 Desember 2015 pukul 00:12
Wednesday, December 9, 2015
Di Tengah Deadline
Halo, Blog (Maksudnya lagi nyapa blog, bukan ngatain orang). Sudah lama sejak terakhir aku bikin postingan disini. Dan sekarang aku pengen nulis lagi disini. Kenapa? Well, hari ini ada yang tanya "Kamu kok udah nggak pernah update blog?". Dan barusan aja nih, aku jalan-jalan lagi di blog, tumblr, wordpress, dkk punya temen-temen VECTOR dulu. Yah, meskipun diantara yang aku kunjungi hanya satu yang masih update, tapi cukup bikin pengen nulis lagi disini.
Oke cukup lah ya intermezzonya, aku mau cerita sesuai judul deh. DEADLINE !
![]() |
| Sumber : lifehacker.com |
Yah di akhir semester seperti sekarang ini mungkin sudah menjadi tradisi akan ada banyak project akhir. Sebuah tugas yang skalanya lebih tinggi daripada tugas-tugas biasanya. Sebuah tugas dimana ekspektasi dosen lebih tinggi daripada biasanya. Sebuah tugas yang umumnya mendominasi prosentase bobot nilai akhir. Sebuah tugas yang akan membuat mahasiswanya bertahan di depan laptop masing-masing. Sebuah tugas yang mampu membuat satu angkatan nongkrong di gazebo hingga tengah malam.
Mungkin seperti itu beberapa definisi yang bisa diberikan kepada project akhir. Dan saat ini juga sebenarnya aku sedang melarikan diri dari Matlab. Sebuah software yang biasa digunakan dalam mata kuliah Pengolahan Citra Digital (PCD). Sebuah project yang harus dikumpulkan pada Jum'at, 11 Desember 2015. Sedangkan saat ini progresnya belum mencapai 50%. Bisakah terselesaikan? Entahlah, lihat saja nanti.
Project PCD juga tidak datang sendirian. Semester ini dia datang dengan beberapa kawan, sebut saja Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), Sistem Pendukung Keputusan, Logika Fuzzy, dan Kecerdasan Buatan. Deadlinenya? Maksimal 18 Desember 2015.
Udah dulu ya Blog, matlab sudah memanggil bersamaan dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di grup Line kelompok RPL. Doakan semester ini berakhir manis, semanis kamu :)
Malang, 9 Desember 2015 pukul 23:10
Tuesday, March 24, 2015
Monday, December 22, 2014
Entah ini hari keberapa sejak kita terakhir bertemu, Namun
terasa seperti selamanya. Sedangkan waktu bersama kamu, seperti durasi
selamanya dibagi selamanya lalu diakarkan dengan selamanya. Lebih cepat dari
waktu yang dibutuhkan seokor Hummingbird untuk melancarkan satu kepakan sayap.
Menunggu yang tidak pasti itu melelahkan. Tapi menghadapi
dunia yang tidak menentu, denganmu aku ingin terkejut bersama.
Aku terlalu
takut kehilangan. Namun kamu meyakinkan, bahwa yang bersama kita saat ini
adalah yang dianugerahkan.
Aku bersikeras masa depan bisa direncanakan. Kamu
mengingatkanku takdir tak bisa dielakkan.
Kamu bilang, waktu paling berharga
adalah saat ini. Maka bagiku, kamulah yang paling berharga, karena masih
bersamaku sampai kini.
Terima kasih sudah mengajarkanku bahwa mencinta itu
berarti juga mengingatkan. Tetaplah saling menggenggam. Dan sekali lagi,
mari kita terkejut bersama, menghadapi dunia yang tidak menentu akhirnya…
Terima
kasih sudah menyajikan rasa yang begitu nyaman.
Monday, December 8, 2014
Akhir Long Road
Dikarenakan pemilik blog ini melakukan pergantian laptop, data-data #LongRoad masih ada di laptop lama dan tidak dipindah ke laptop yang baru. Sehingga #LongRoad sepertinya harus diakhiri 1 post lebih cepat dari yang seharusnya.
Endingnya sih, aku di Universitas Brawijaya. Salah satu kampus di Kota Malang. Sudah hampir 1,5 tahun berhabitat di kampus ini.
Monday, June 2, 2014
Long Road #12 : UMB-PT
UMB-PT (Ujian Masuk Bersama Perguruan Tinggi). UMB-PT ini kalau aku bilang mini SBMPTN. Kenapa? Soalnya beda sama ujian mandiri lain, UMB-PT bukan hanya diadakan oleh satu universitas. Ada 13 PTN yang ikut, dan 6 PTS. Ini dia 19 Perguruan Tinggi yang "ikut" UMB-PT.
Daftar PTN :
- Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH) Banda Aceh
- Universitas Malikussaleh (UNIMAL) Lhokseumawe
- Universitas negeri Medan (UNIMED) Medan
- Universitas Sumatera Utara (USU) Medan
- Universitas Jambi (UNJA) Jambi
- Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Jakarta
- Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto
- Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang
- Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta
- Universitas Palangka Raya
- Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) Banten
- Universitas Boeneo Tarakan (UBT)
- Universitas terbuka (UT)
Daftar PTS :
- Universitas Islam Sumatera Utara (UISU)
- Universitas Pancasila (UP)
- Universitas Bakrie (UB)
- Institus Teknologi Indonesia (ITI)
- Universitas Gunadarma (UG)
- Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS)
Itu dia 19 Perguruan Tinggi yang bisa dipilih ketika mengikuti UMB-PT. Setelah nulis ini, aku bingung apalagi yang mau di-share. Setelah buka-buka data cari kuliah, eh softcopy data UMB-PT masih ada, yauda aku share. Monggo dilihat, ini bukti pra registrasi tahun 2013.
Nah, setelah bayar sejumlah itu di ATM atau Teller, baru bisa dapet kartu peserta. Oh iya, biayanya belum tentu segitu. Ada beberapa pilihan biaya sesuai dengan fasilitas yang didapat (kayak hotel aja wkwk). Itu aku segitu soalnya ambil 5 pilihan jurusan. Ada yang 3, 5, sama 7 jurusan. Biaya masing-masing beda. Kenapa aku ambil 5? Simply because 5 yang di tengah. Coba pilihannya 3, 4, 5. Pasti milihnya 4 hahaha.
Nah, waktu hari H itu, aku berangkat sendiri dari Gresik naik motor. Iyalah, secara Surabaya sebelahan sama Gresik. Berangkat dari rumah jam 6. Perjalanan 1 jam, sampe di Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) sekitar jam 7. Masih ada 1 jam, lumayan buat melepas lelah perjalanan sambil cuci mata hahahahahahahaha.
Tesnya ya gitu-gitu aja sih. 90 menit buat ngerjain Tes Nalar Sains. 120 menit untuk tes Nalar matematika dan Bahasa. Soalnya nggak jauh beda dari yang lain. Jujur nggak ada yang spesial sih waktu tes ini. Berangkat, ngerjain, pulang -.-
Setelah nunggu, akhirnya pengumuman itu datang juga. Ternyata aku keterima. Bukan pilihan satu atau pilihan dua, tapi pilihan lima (Teknik informatika Unsoed) hahaha. Tetep bersyukur sih. lagian juga informatika sebenernya inceran utama. Jadi sampai momen ini, aku diterima di 2 PTN. Antara UB dan Unsoed....
Friday, March 21, 2014
Long Road #11 : Selma UB
Gak kerasa Long Road ini udah sampe #11. Cerita disini juga kesekian kalinya aku mencoba mendapatkan satu bangku kuliah.Selma UB ini udah termasuk PTN yang terakhir dalam ngadain ujian mandiri, dan aku belum diterima dimana-mana saat itu. Gak banyak kesempatan tersisa. Aku nggak sendiri, ada 3 anak VECTOR (cowok semua) yang juga belum dapet kuliah. Kita bareng-bareng ikut Selma UB ini.
Seingatku, tes Selma UB ini mulai jam 7 pagi. Dengan keadaan rumah di Gresik, kayaknya berat kalo mesti berangkat hari H. Kita berempat (aku sama 3 lainnya) rundingan masalah ini. Ternyata ada yang punya saudara di Malang. Okedeh, kita berangkat H-1 dan nginep semalam di rumah saudaranya Faisal, VECTOR #5.
H-1. Kita kumpul di rumah Faisal habis maghrib, setelah itu langsung berangkat. Kita berempat diantar sama Steve Jobs. Hahaha, jelas bukan Steve Jobs asli. Ini sebutan dari Novan, VECTOR #16 ke ayahnya Faisal. Ya karena mirip aja sih sama mendiang pendiri Apple itu.
Udah deh, balik ke cerita. Sebenernya nggak banyak yang bisa diceritakan. Perjalanan standar dari gresik menuju Malang. Jadi ya, aku banyak tidur hahaha. Oh iya, kita berangkatnya agak molor, sekitar jam 8-9 gitu. Karena molor, sampainya disana juga lebih larut. Jam 1--an kalo gak salah. Sampai rumahnya, langsung pada tidur.
Nah, besoknya kita agak molor lagi (perasaan kok molor terus -_-). Kita baru berangkat jam setengah 7, sedangkan tesnya mulai jam 7. Jaraknya juga nggak deket-deket amat. Ditambah saat itu kota Malang diserbu ribuan peserta tes Selma UB. Bisa kebayang deh macetnya gimana. Dan kita sampau kampus UB jam 7 kurang dikit. Setelah masuk gerbang, kita tanya kira-kira lokasi ujian di papanya faisal, kebetulan beliau juga lulusan UB. Dan kita semua mutusin buat jalan kaki ke ruang ujian. Kelamaan juga kalo mesti naik mobil.
Sampai ruangan, peserta lain udah mulai masuk ruangan. Setelah basa-basi formalitas sebelum tes, soal pun dibagi. Ada sekitar 120 soal disitu. Sedikit beda dengan tes-tes lain, Selma UB hanya ada 1 sesi. Jadi kita ngerjakan 120 soal, diberi waktu selama 3 jam, 07:00 - 10:00 WIB. Bedanya lagi, Selma UB 2013 nggak ada sistem pengurangan nilai untuk jawaban yang salah. Jadi kalau nggak bisa, yauda isi aja terserah sambil berharap keberuntungan hahaha.
Setelah selesai, yaudah langsung pulang. Setelah nunggu, akhirnya sampai di hari H pengumuman. Di titik ini, entah kenapa aku nggak ada beban buat buka pengumuman di web. Mungkin udah terlalu sering ditolak universitas kali ya haha. Akhirnya sore itu aku buka pengumuman di web pengumuman.ub.ac.id, terpampanglah sebuah hasil.
Untuk pertama kalinya selama cari kuliah, webnya ngasih selamat, bukan minta maaf. Untuk pertama kalinya juga, ada tulisan warna ijo, bukan lagi abu-abu atau merah. Gemeter aku pertama lihat itu. Antara percaya dan tidak, aku refresh lagi halamannya, dan ternyata nggak ada perubahan. Aku panggil orang tua. Begitu mama tau, beliau langsung sujud syukur di sebelah laptop :') Bahagia. Satu kata yang bisa mewakili perasaan saat itu. Bukan hanya karena dapat kuliah, tapi juga bisa melihat orang tua bahagia.
Sampai aku nulis inipun, perasaan saat itu masih kerasa. Perasaan bahagia sekaligus lega yang sepertinya hanya terjadi sekali. Buat yang sudah pernah mengalami, bisa mengingat kembali bagaimana perasaan ketika mendapatkan kuliah dulu. Untuk yang masih sekolah, kelak kalian pasti merasakan gimana senengnya dapet kuliah. Besar kecilnya perasaan itu tergantung seberapa besar usaha kalian.
"Semakin sulit perjuangannya, semakin besar kemenangannya." - Thomas Paine
Monday, February 17, 2014
Long Road #10 : UM UGM (Bagian Kelima)
Kalau ujian-ujian lain, selesai ngerjakan soal langsung pulang. Kalau ini? Nggak boleh dong ! Masak jauh-jauh ke Jogja nggak menikmati Jogja dulu? Hahaha. Kalau kamu yang baca ini udah baca dari bagian pertama, pasti tau tujuan kita mau kemana. Yup, MALIOBOROOO hahahaha.
Habis shalat Dhuhur di basecamp (Masjid UGM, Red), langsung bergerak menuju arah Malioboro. Oiya, Nurdin (Member Vector #17) juga ikut UM UGM tapi dia nggak ikut perjalanan dari awal. Karena H-1 UM UGM, dia tes di Surya University (Perguruan Tinggi punya Prof. Yohanes Surya). Aku juga baru ketemu pas duduk-duduk di masjid UGM setelah ujian. Yah, "rombongan" sekarang bertiga, aku, Novan, dan Nurdin. Kita sebut diri kita sendiri "3 idiots" wakakaka
Oke lanjuuutt. Setelah shalat dhuhur, kita bertiga keluar komplek kampus UGM mau ke stasiun pesen tiket kereta (baru pesen di hari H). Berhubung kita nggak ada yang tahu jalan, kita nyari taksi. Oh iya, taksi di Jogja lumayan susah nyarinya. Jumlahnya dikit banget. Setelah sukses keluar kampus, tiba-tiba ada taksi lewat, dan kosong. Weh, sepertinya ini hari kita hahahaha
Singkat kata, kita sampai di Stasiun Tugu Yogyakarta. Masuk, lihat layar, ternyata tiket hari itu udah habis. Okeh, pulang naik bis. Tapi sebelum itu, panggilan Malioboro terlalu sulit untuk diabaikan. Belum ke Jogja kalau belum ke Malioboro hahaha
Yah, kita jalan-jalan di jalan Malioboro. Tujuan utamanya sih cuma jalan-jalan, nggak ada yang mau dibeli. Jadi ya, jalan-jalan aja :| Beneran waktu itu geje abis jalan-jalan bertiga di malioboro. Jalan dari sisi stasiun, terus sampe alun-alun. Kalau diingat-ingat lagi, sebenernya udah lemes nih kaki, tapi entah kenapa jalan-jalan bareng temen itu gak ada capeknya :D Sekalian istirahat, kita shalah ashar di Masjid Gede Kauman Yogyakarta.
Setelah capeknya (sedikit) mereda, kita kembali "berpetualang". Kali ini bingung mau kemana, 3 idiots memutuskan tanya Pak Becak. Aku lupa waktu itu anak-anak tanya apaan, yang pasti kita bertiga naik satu becak. Well, normalnya becak diisi 2 orang dewasa. Sedangkan kita ini 3 anak tanggung (itung aja dewasa) jadi satu. Jadi ya gitu, kruntelan (entah apa Bahasa Indonesia untuk kata yang satu ini hahaha).
Bertiga, kita kruntelan keliling sedikit Kota Jogja. Dibawa bapaknya ke tempat jual baju. Emang dari awalnya nggak minat belanja, aku cuma duduk aja. Sampai akhirnya sesi kruntelan berakhir di depan Masjid Gede Kauman. Waktu itu udah mau maghrib, jadi kita mutusin buat bertamu ke rumah Allah, nunggu maghrib sekalian numpang melemaskan otot-otot kaki.
Setelah menunaikan ibadah 3 rakaat, kita lanjut. Kali ini kita jalan kaki, buat nyari taksi. Udah malem bro, kangen mama papa di rumah #halah. Ternyata meskipun destinasi wisata, cari taksi di malioboro gak segampang cari bule cewek pake tanktop. Jumlahnya dikit banget, kalaupun ada biasanya udah ada isinya. Setelah mencari dengan gigih dan mempertaruhkan segenap jiwa raga, akhirnya dapet juga taksi yang kosong. Meluncur ke terminal~
Sebelum masuk terminal, ngisi perut dulu :D Setelah kenyang, masuk terminal dan nyari bis jurusan Surabaya. Dapet, naik, duduk, dan tepat pukul 20:00 berangkat. Aku masih inget banget itu bis patas PO Eka, harganya 82 ribu (Jogja - Surabaya) dan dapat makan di Madiun (kalo gak salah).
Friday, January 24, 2014
Gaming Machine Idaman
Tempo hari aku menjelajah YouTube. Iseng aja nyari video-video tentang aerodinamika F1, mulai dari front wing, sidepod, rear wing, sampai diffuser (meskipun nggak semuanya bisa mudeng haha). Sebagai pecinta F1, aku selain cari tahu gimana mobil F1 bekerja, aku juga nyari game F1 :D (apalagi aku cowok, game abis dah hahaha). Biasanya aku main F1 cuma pake keyboard, itupun spek laptop kurang mendukung jadi sering nyendat (macet, red) -__-. Dan main pake keyboard ini level yang sangat basic. Diatas level ini ada yang main pake controler yang ada steering wheel dan pedal (aku gatau namanya). Tapi, steering wheel yang ini masih lingkaran (standar kendaraan pada umumnya). Ini yang bikin sensasi F1-nya kurang terasa haha.
Gaming machine dibawah ini JAUH LEBIH KEREN daripada pake controler yang setir lingkaran, apalagi cuma pake keyboad -__-. Lihat sendiri aja biar puas :D Ini di sirkuit Spa-Francorchamps, Belgia.
Keren kan?! 3 layar monitor memberikan hampir 180 derajat view, driver perspective. Steering wheel benar-benar menyerupai steering wheel yang dipakai tim F1 (dalam video ini Ferrari). Sensasi shifting dengan jari tidak bisa didapat dari setir lingkaran. Ditambah lagi accelerating menggunakan pedal, sensasi naik F1 jadi lebih real. Seakan-akan ini bukan sebuah konsol game, tapi simulator F1. Meskipun nggak secanggih milik tim-tim F1, alat ini cukuplah untun bikin pecinta F1 ngiler, termasuk aku :~ haha.
Terakhir, yang tahu ini bisa beli dimana, komen ya ;) Nanti aku bilang ke penjualnya hahaha
Monday, January 6, 2014
Long Road #9 : UM UGM (Bagian Keempat)
Dari sekian banyak bagian dari postingan UM UGM, mungkin ini yang paling penting. Soalnya ya di bagian ini tentang tesnya. Bagian satu - tiga itu kan pembuka hehe.
Seingatku tes mulai jam 7. Jadi idealnya berangkat dari masjid sekitar jam 6. Lumayan pagi buat tes-tes semacam ini. Tapi akuu gak kuatir, toh ada alarm berjalan (Novan, Red) hahaha. Jadilah kita bangun sekitar shubuh, shalat jamaah, dan melakukan aktivitas pagi (saya rasa cukup jelas). Sekitar setengah 6 kita udah keluar dari masjid, mau cari makan dulu. Di jalan arah gedung ujian, akda warung yang buka. Jadi makan disitu.
Pas kita datang, warung ini udah agak rame dan sepertinya yang lain juga mau ngisi perut sebelum tes. Tapi ternyata, nasi dan beberapa lauknya belum siap. Padahal tes mulai jam 7 dan kalau nggak salah sampai siang, jam 12-an. Tereeeng ! Dan setelah tau faktanya kayak gitu, semua mata tertuju pada rice cooker. Tiap rice cooker di buka dan nasinya siap, selalu ada suara-suara "Mbak, saya nasi pecel" "Mbak saya lauk ayam" "Mbak saya nasi sama sambel" "Mbak, nikah yuk?" dan mbak-mbak lain (?). Setelah sekitar 45 menit nunggu, akhirnya pesanan datang juga dan langsung dilahap. Agak nggak nyaman sih. Selain dikejar waktu, nasinya juga puanas brooooo. Tapi yaweslah, daripada nanti ngerjain soal sambil didemo sama perut -_- Setelah habis, langsung cabut ke lokasi.
Untungnya aku udah tau lokasi ujian, jadi nggak muter-muter nyari dulu. dan sampai depan ruangan, ternyata masih dikunci (belum mulai). Thank God ! Buat nunggu dibuka sambil nenangin diri, duduklah aku di kursi dekat ruangan dan lihat kanan kiri, siapa tahu pulang dapet pacar. Mulai ngawur, skip skip skip. Setelah masuk ruangan, ngeluarin alat tulis, nomor peserta, masukin HP ke tas, dan naruh tas di depan (prosedur standar). Dan inti dari semua ini, ngerjakan soal !
UM UGM ini seingatku dibagi jadi 2 sesi. Sesi yang pertama itu soal-soal kemampuan IPA, yang soal-soalnya berceceran di toko-toko buku. Terus sesi yang kedua itu sejenis Tes Potensi Akademik (TPA) kalau di SBMPTN. Jadi soal-soal yang sering keluar di tes-tes psikologi. Uniknya "tes psikologi" di UGM ini nggak ada referensinya di toko-toko buku dan soal-soalnya juga sepertinya hasil modifikasi pihak UGM. Jadi, benar-benar terlihat mana yang otaknya tajam (menurutku sih hehe).
Oke, balik ke soal. 5 menit, 10 menit, 15 menit masih belum terjadi reaksi apa-apa. Sekitar 30 menit setelah ujian dimulai, reaksi gelisah mulai muncul. Mulai dari pusing, mual, bibir pecah-pecah, sampai ketuban pecah.
![]() |
| Grady nggak selucu ini haha |
Oke, mungkin gambar terakhir ini sedikit berlebihan. Soalnya kalau udah nggak bisa, biasanya aku lihatin wajah-wajah serius peserta lain. Kalau lagi beruntung, bisa nemuin satu wajah bingung, dan itu selalu jadi hiburan tersendiri kalau lagi ujian hahaha.
Okeoke, sepertinya nggak ada lagi yang seru di ujian IPA. Lanjut ke "psikotes". Pas ngerjakan psikotes, rasanya itu kayak pendinginan. Yah, mungkin nggak bener-bener pendinginan juga. Soal yang benar-benar baru kadang butuh waktu lebih untuk bisa menemukan pola-polanya. Tapi kalau dibandingkan soal-soal pada sesi ujian IPA, keduanya nggak bisa dibandingkan. Kan beda bidang broo hehe. Oiya, soal-soal sesi ini kan nggak ada referensinya di toko buku. Bisa dimaklumi karena setelah ujian, soal-soalnya dikumpulkan ke pengawas lagi. jadi lebih terjamin lah keamanannya.
Well, itu dia pengalaman waktu ngerjakan UM UGM. Bisa? Yah, mungkin sama dengan ujian-ujian yang lain. Yakin? Harus yakin dong :D hahaha. Ujiannya emang udah selesai. Tapi perjalanan "3 idiots" belum berakhir. Hari itu masih ada 12 jam. Terlalu sayang jika langsung pulang ke Gresik :D
Monday, November 25, 2013
Long Road #8 : UM UGM (Bagian Ketiga)
Oke, tenaga sudah di recharge, ceritanya lanjut lagi :D Di postingan sebelumnya sampai istirahat di Masjid UGM, kita mulai postingan ini juga dari situ juga. Oke? Okeeeeeee.
Habis shalat + istirahat sebentar, kita menyusun rencana buat nyari lokasi ujian. Nah, waktu diskusi ini pertolongan Allah datang. Tiba-tiba ada mas-mas yang nyamperin kita. Namanya mas X (aku lupa -_-) asal Sumatra. Nah, mas X ini semacam ketua lembaga dakwah di masjid UGM.
Mas X : Mau ikut UM UGM dek?
Grady : Iya mas
Mas X : Tesnya dimana?
Grady : Aku di Kehutanan
Novan : Aku di Isipol mas
Mas X : Oh, gitu. Udah dapet tempat tinggal?
Grady : Belum mas. Kos yang murah sekitar UGM dimana ya mas? Hotel UGM juga penuh
Mas X : Yang ikut UM banyak dek, pasti penuh semua. Tidur disini aja, nanti malem rame. Kita lagi nyiapin RdK (Ramadhan di Kampus, Red).
Aku sama Novan beradu tatap sambil bertelepati (halah)
Grady : mmm, lihat nanti aja deh mas. Kita mau lihat lokasi ujian dulu.
Mas X : Oh iya silahkan. Kalau beneran tidur sini juga nggak papa loh ya.
Grady : Oke mas.
Well, kita akhirnya meninggalkan masjid berjalan menuju gedung Fakultas kehutanan UGM. Jaraknya nggak terlalu jauh dari masjid, jadi kita jalan kaki (lagi). Waktu jalan nggak ada apa-apa jadi skip aja, dan kita sampai di Fakultas Kehutanan UGM :D
![]() |
| Fakultas Kehutanan UGM |
Nah, itu gedung utama Fakultas Kehutanan UGM. Sebenernya aku bukan tesnya di gedung diploma timur. Tapi berhubung tidak menemukan gambarnya di google, jadi nggak ada gambarnya ya hehe. Habis sampai, ketemu ruangnya, terus bingung. Mau kemana ini?
Akhirnya kita mutusin buat balik ke masjid, dan kebetulan sekali di halaman masjid ada yang jual bakso. Makan deh hahaha, laper brooo. Setelah kenyang, kita masuk masjid, sholat. Nah habis shalat, si Novan kayaknya kurang enak badan, tidur deh dia. Sebenernya aku juga pengen tidur. Tapi inget tas nggak ada yang jaga, urung deh niat itu. Jadinya keliling masjid. Siapa tahu dapet pacar (ternyata nggak dapet juga wkwkwk). Dari sore sampe maghrib nggak ada apa-apa, jadi skip skip skip.
Setelah shalat jamaah di masjid UGM, aku sama Novan yang emang ga ada tempat tinggal ya clingak-clinguk aja di salah satu sudut masjid sampai akhirnya "ditemukan" sama mas-mas ketua lembaga dakwah yang waktu itu. Ditawari lagi, dan kita terima (udah ga ada opsi lain). Kita dianter ke satu ruangan punya lembaga dakwah di belakang mimbar. Ruangannya gak terlalu besar, cukuplah buat bertiga jadi ikan pindang hahaha. Oh iya, bukan cuma aku sama Novan aja yang tidur disitu. Ada satu lagi anak dari Kediri (lupa namanya (lagi)).
Jujur, rencanaku malam itu mau belajar. Mengerjakan dan mempelajari beberapa soal kayaknya lumayan buat pemanasan. Tapi ternyata Allah berkehendak lain. Mas ketua lembaga dakwah ngajak aku, Novan, sama anak Kediri makan. Dalam kondisi sebagai perantau, ajakan makan adalah "ajakan masuk surga" hahahahahaha. Ternyata masjid UGM waktu itu sedang nyiapin acara RDK (Ramadhan di Kampus, Red), jadi banyak yang masih stay di kampus buat nyiapain segala sesuatunya. Jadilah kita makan nasi kotakan sambil ngobrol dengan senior-senior UGM. Ngobrol tentang RDK itu sendiri, kehidupan UGM, dan lain-lain.
Pas jam 9, kita bertiga pamit mau balik ke "kamar". Setelah say thanks buat makanan dan wawasannya, kita langsung ke "kamar". Di kamar, langsung tidur. Charging tenaga buat hari H esok harinya.
Wednesday, November 6, 2013
Long Road #7 : UM UGM (Bagian Kedua)
Oke, lanjut lagi ya. Kemarin ceritanya cuma sampai Stasiun Tugu Yogyakarta. Habis sampai di Stasiun Tugu, masalah langsung muncul. "Kita mau kemana?" Kita emang pernah ke Jogja, tapi itu bareng rombongan dan nggak ikut campur masalah arah. Lha ini? Kita cuma berdua. Nggak tahu arah. Nggak bawa peta (lengkap sudah rasanya). Akhirnya kita jalan, pokoknya jalan, nggak peduli itu arahnya bener atau salah. Yang pasti, waktu itu kita lewat Jalan Pasar Kembang. Aku sama Novan langsung cekikikan mengingat desas-desus yang kami tahu tentang jalan ini hehe. Oke skip skip.
Kita terus jalan, tiba-tiba di sebelah kanan jalan Novan ngelihat ada papan nama jalan dan terjadi sebuah percakapan pendek.
Novan : Grad, ayo besok waktu mau pulang jalan-jalan di malioboro dulu
Grady : Iya, beres. Yang penting sekarang gimana caranya biar sampai ke UGM dulu
Novan : Iya wes
NB: Percakapan diatas dilakukan dalam bahasa Jawa kasar. Demi kebaikan bersama, langsung di translate hehe
Kita lanjut jalan lagi. Kuberjalan terus tanpa henti, dan diapun kini telah pergi~ (Soundtrack lagunya Nidji haha). Kita sampai di persimpangan jalan, dan lihat ada polisi yang duduk-duduk di posko. Akhirnya kita tanya ke polisi. Dan menurut info dari polisi, kita bisa ke UGM naik bis kota jalur 2 atau 4. Dapet info kayak gitu, kita serasa dapet GPS runtuh (?) hahaha. Jadi kita nunggu bis kota. Sampai akhirnya yang ditunggu-tunggu muncul, kita naik. Fiuh, lega rasanya sudah "menemukan jalan yang benar" hahaha. Kita duduk sambil menikmati jalanan Jogja yang saat itu lumayan macet. Fokus kita langsung on ketika ngelihat pemandangan yang biasanya kita lihat di poster.
![]() |
| Gerbang UGM |
Kita sampai di UGM broooo hahaha. Lega gitu rasanya lihat kampus ini. Soalnya udah sampai di lokasi dan tinggal muter-muter nyari gedung tempat ujian.
Itu tanda bukti pendaftaran UM UGM. Sebenernya ada satu kartu lagi, Kartu Peserta. Dan disitu ada lokasi ujian. Tapi entah dimana file PDF nya berada. Jadi ya, nggak bisa diupload hehe. Tapi nggak papa wes, toh aku inget kalau aku waktu itu tes di Fakultas Kehutanan UGM. Sementara Novan tes di Isipol UGM.
Itu peta UM UGM tahun 2009, tapi nggak papalah toh masih sama hehe. Karena sebelumnya masih benar-benar buta UGM, kita tanya satpam di gerbang UGM.
Grady : Pak, kehutanan UGM dimana ya?
Satpam : Wah, kehutanan jauh mas. Ini lurus aja, mentok di gedung itu belok kanan. Nanti bla bla bla
Grady : Oh, iya makasih pak.
Kita jalan (lagi). Nah sambil jalan itu, terjadi sebuha percakapan pendek (lagi).
Novan : Grad, kamu tadi paham sama penjelasannya satpam?
Grady : Nggak hehehe :|
Novan : Lha terus ini gimana?
Grady : Yaweslah, pokoknya lurus, belok kanan, nanti tanya lagi.
Setelah percakapan itu, tiba-tiba kita ngelewati Hotel UGM. Berhubung kita belum punya tempat tinggal, yaudah kita masuk (padahal duit limited hehehe).
Novan : Mbak, kamar yang paling murah berapa ya? (udah, jangan ketawa)
Resepsionis : Udah booking belum mas?
Novan : Belum mbak
Resepsionis : Wah, maaf udah penuh mas.
Novan : Ooooooooh, penuh. Yauda makasih mbak
Pupus deh harapan buat tidur di hotel hahaha. Akhirnya kita keluar hotel. Dan kita ketemu satpam yang jaga hotel. Karena tadi instruksi belum jelas, aku tanya lagi.
Grady : Pak, kehutanan UGM dimana ya?
Novan : Ini terus, nanti belok kiri, ada pertigaan belok kanan. Lurus aja, nanti ketemu kehutanan.
Grady : (Wah, penjelasannya jelas nih) Oke, makasih pak.
Oke, lanjut jalan bos. Kita ikutin petunjuk satpam yang jaga hotel. Lurus aja, terus belok kiri. Eh langsung ketemu pertigaan. Yaudah tanpa mikir lagi langsung belok kanan. Jalan terus ikuti jalan itu. Disini capeknya udah kerasa. Nyari jalan ke UGM, sampai di UGM juga jalan kaki terus. Hanya yang berniat tulus yang sanggup bertahan (halah hahaha). Lanjut cerita deh. Setelah lumayan lama jalan, kita berhenti dan menyadari kalau kita cuma muter-muter. Kalau lihat denah diatas, kita muterin gedung GSP. Soalnya dari gedung GSP, nggak ada jalan tembus langsung ke ISIPOL (Gedung nomor 17). Disitu mangkel-meter (?) kita udah naik. Tenaga tinggal dikit, eh cuma dipake muterin gedung -_-. Untuk menenangkan diri, kita istirahat sekalian shalat dhuhur di masjid UGM (alim mode hahaha).
![]() |
| Masjid UGM |
![]() |
| Penampakan Dalam |
Disitu aku sama Novan shalat Dhuhur + istirahat. Dan disitu juga pertolongan Allah itu datang. Gimana pertolongan-Nya? Tunggu saja di postingan selanjutnya, disini udah panjang hehe.
Lakukan dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan mempermudah semuanya.
Monday, October 14, 2013
Long Road #6 : UM UGM (Bagian Pertama)
Hap hap hap :D | Kamu ngapain Grad? | Nggak papa, aku lagi semangat aja :D | Gak jelas Grad |
Hahaha aku emang semangat nulis Long Road bagian ini. Oiya, Long Road bab UM UGM aku bagi menjadi beberapa bagian. Karena memang pengalaman tes UM UGM ini paling panjang, paling seru, paling melelahkan, dan paling ngehabisin duit juga hahaha :D tapi perjalanan UM UGM berhasil ngasih aku banyak sekali pengalaman, makanya aku semangat nulis bab ini. UM UGM emang paling spesial dari ujian-ujian mandiri yang lain. Kenapa? Karena kalau ujian lain, aku yang berdomisili di Gresik bisa ikut di Surabaya. Nah kalau ini, HARUS datang ke Jogja ! Kebayang deh gimana gregetnya tes di kota yang masih asing (walaupun udah pernah kesana sih sebenernya).
Yap, perjalanan dimulai. Tes memang dilaksanakan pada tanggal 7 Juli 2013, tapi tanggal 3 Juli 2013 aku sudah mulai mempersiapkan tiket untuk keberangkatan tanggal 6 Juli 2013. Oh iya, aku berangkat ke Jogja cuma berdua sama Novan, tanpa diantar orang tua (so sweet kan ke Jogja berdua wkwka). Rencananya kita mau berangkat naik kereta. Sebenarnya ada opsi naik bis, tapi kita kuatir macet. Kalau macet kan jadwal molor, takutnya sampai di Jogja telat. Oke, jadi deh pesen tiket kereta di salah satu penyedia jasa travel di Gresik.
Perjalanan yang sebenarnya dimulai pada tanggal 6 Juli 2013. Aku sama Novan janjian buat kumpul di rumahku sebelum ke stasiun. Kita janjian berangkat ke Surabaya jam 06.30. Sedangkan kereta dijadwalkan berangkat pukul 08.00. Nggak ada yang terlalu seru disini. Kita berangkat ke stasiun naik taksi. Jadi mulai berangkat ke stasiun, kita sudah berdiri pada kaki kita masing-masing. Bantuan dari orang tua hanya dalam bentuk doa. Setelah beberapa lama, kita sampai di Stasiun Gubeng, Surabaya.
![]() |
| Stasiun Gubeng Surabaya |
Kita sampai di stasiun Gubeng sekitar pukul 07.15. Lumayan pagi sih, jadi kita mesti nunggu sekitar 45 menit. Sambil nunggu, sambil duduk-duduk, sambil dengerin musik live yang disediakan pihak stasiun. Jadi yah, nyanyi-nyanyi gak jelas gitu berdua hahaha. Sambil nunggu, kita juga memperhatikan gerak-gerik orang-orang yang ada di stasiun #halah hahaha. Setelah sekitar 30 menit menunggu, ada pengumuman dari speaker. "Kepada penumpang KA Sancaka Pagi tujuan Yogyakarta, harap bersiap di jalur 6. Kereta datang dari arah utara. Terima kasih." (Kurang lebih begitulah hehe). Bareng penumpang lain, aku langsung ke jalur 6.
Surabaya ke Jogja ternyata jauh, 308 kilo broo. Nggak lama kemudian keretanya dateng. Tuutt tuutt gejess gejesss (anggep aja suara kereta hehe). Gejess gejess ciiitttt ciiiittt (ini suara kereta yang lagi ngerem hahahaha). Kita naik. Kita duduk di gerbong Bisnis 4, KA Sancaka pagi.
![]() |
| KA Sancaka |
![]() |
| Penampakan Gerbong Bisnis |
Fasilitasnya lumayan. Duduk berdua, hadap depan semua, ada AC, toilet, dan yang terpenting ada "colokan" listrik hahaha. Tepat jam 08.00 kereta berangkat. Awal perjalanan sih standar aja, paling cuma lihatin pemandangan lewat jendela kereta (iyalah, masak lewat atap). Selama perjalanan, aku sama Novan juga memperhatikan orang-orang sekitar. Dan mbak-mbak yang duduk di depan kita kayaknya juga mau tes UM UGM. Soalnya dia dari awal naik kereta, udah buka buku yang isinya soal. Rajin banget ya? Sama rajinnya sih sama Novan, dia juga belajar. Aku? Charging nyawa (Tidur, Red) hahahaha.
Menurut jadwal, kita sampai di Stasiun Tugu Yogyakarta pukul 12.52. Kenyataannya, kita sampai sekitar jam 13.00 (Telat 8 menit, yasudahlah). Stasiun Tugu Yogyakarta. Kita di Jogja brooo !
Cukup sampai sini dulu aja, nanti dari Stasiun Tugu sampai akhirnya pulang ke rumah di postingan lain saja ya, capek broo hahaha.
Monday, September 30, 2013
Long Road #5 : Simak UI
Setelah menemui jalan buntu di babak SNMPTN dan SBMPTN, bidikan langsung dialihkan ke babak mandiri. Ternyata babak mandiri terdekat setelah SBMPTN ya ini, Simak UI. Seleksi Masuk Universitas Indonesia. Universitas (yang katanya) terbaik di Indonesia. Universitas yang identik dengan jas kuning, bis kuning, dan ikon-ikon lainnya.
Pelaksanaan ujian simak UI dilaksanakan di banyak kota di Indonesia, salah satunya di Surabaya. Nah, di Surabaya inilah aku ujian simak UI. Lebih tepatnya di komplek SMP-SMA Al-Hikmah Surabaya. Ya, bisa dilihat sendiri lokasi "pertumpahan darah" bertajuk Simak UI hahaha. Aku nggak sendiri ikut pertempuran ini. Anak VECTOR juga banyak yang ikut simak UI. Aku di lantai 2, ruang 39. Eh ternyata Novan ruang 40, sebelahan haha. Ada juga Kania yang satu ruangan sama Novan. Turun satu lantai, ada Naufal alias Gipang. Sebenarnya tes simak nggak cuma disini. Untuk jurusan IPS (dan mungkin juga IPC) bertempat di SMAN 9 Surabaya. Disana ada Ayu, kan dia ambil jurusan IPS.
Langsung aja wes. Aku ikut simak ini, jujur persiapanku minim sekali. Disamping tidak terlalu mempersiapkan untuk ujian mandiri, sebelumnya juga nggak pernah melirik UI sebagai destinasi kuliah. Tapi keadaan emang gabisa dibohongi. Keadaan pikiran yang kacau setelah gagal di 2 jalur sedikit banyak bikin panik. Mamaku langsung menurunkan perintah buat mencari info ujian mandiri yang masih buka. Jarak antara pengumuman SBMPTN dan pelaksanaan simak UI hanya sekitar 10 hari. Itupun aku ada acara selama 4 hari di luar kota. Jadi bersihnya, aku cuma punya waktu 6 hari untuk mempersiapkan diri buat simak UI.
Waktu 6 hari itu kalau diingat-ingat itu sibuk banget. Selama 4 hari pertama, aku ikut "kursus kilat" di salah satu LBB di Surabaya. Selama 4 hari itu juga, aku pertama kali kenalan sama soal-soal simak. Langsung mencoba memahami jenis soalnya (meskipun juga nggak paham hehe). Lalu setelah 4 hari memaksimalkan semuanya, 2 hari terakhir aku tidak terlalu memforsir diri. Fokus utama dialihkan kepada ujian mandiri selanjutnya, UM UGM. Tapi bukan berarti 2 hari itu aku santai. Aku masih serius, aku masih belajar. Hanya saja niatnya yang berubah. Karena hatiku saat itu terlanjur diisi oleh UGM daripada UI.
Saat hari pelaksanaan ujian, semua berjalan lancar. Sejak membuka mata menyambut mentari pagi, tak ada yang terlalu istimewa. Berangkat menuju tempat ujian, menunggu beberapa lama hingga akhirnya masuk ke ruang ujian. Sampai didalam, pengawas bacain peraturan, bagi LJK, cek identitas, dan akhirnya membagikan lembar soal. Oiya, ini kartu peserta Simak UI :D
![]() |
| Halaman Pertama |
![]() |
| Halaman Kedua |
Nah, disinilah pertempuran itu. Semua persiapanku (walaupun minim) ditentukan pada jawaban soal-soal ini. Satu per satu soal dibaca, dan ternyata emang SUSAH. Soal-soal Simak UI yang terkenal susah itu terbukti. Bikin mules -_- Kalau biasanya lebih banyak ngerjakan daripada bengong, ini kadar ngerjakan dan bengong (karena gak bisa) kurang lebih sama -_- Dari sini aku udah tawakkal, apapun hasilnya nanti ._.
Jarak dari tes sampai ke pengumuman ini lama sekaleee. Jadi sambil menunggu, aku ikut ujian mandiri dari universitas lain (diceritakan pada postingan lain). Hingga akhirnya pengumuman itu muncul. Ini yang aku temukan.
Aku gagal (lagi). Aku udah 3 kali gagal. Memang berat menerima 3 kali kegagalan dalam mendapatkan satu bangku di PTN. Tapi ada yang lebih berat dari itu, mengabarkan kepada orang tua. Ya, mengabarkan kepada orang tua itu lebih berat daripada menerima kenyataan ini. Setelah orang tua tahu hasil ini, mamaku ngomong "Wes yo, kon wis gagal ping telu. Gak nyesel ta nek hasile ngene terus?" (translate: sudah ya, kamu udah gagal 3 kali. Nggak nyesel ta kalau hasinya begini terus?). Kekhawatiran orang tua memang sangat beralasan. Aku juga nggak bisa mengubah yang udah terjadi. Aku hanya bisa melupakan UI, dan fight pada ujian yang lain.
Buat pembaca yang mau masuk UI, saranku banyak-banyak belajar soal Simak deh. Biar tau gerbang masuk UI. Kalau nggak tau gerbangnya, kan nggak tau mau masuk lewat mana hehehe.
Sampai ketemu di cerita yang lain ^^
Saturday, September 21, 2013
Long Road #4 : Ujian Mandiri
Setelah ditolak mentah-mentah di SNMPTN dan SBMPTN, mamaku langsung nurunin SP (Surat Perintah #halah) buat mencari info sebanyak-banyaknya tentang ujian mandiri yang masih membuka pendaftaran. Hasilnya, beberapa ujian mandiri berhasil dideteksi.
- Simak UI (Universitas Indonesia)
- UM UGM (Universitas Gadjah Mada)
- Smits ITS (Institut Teknologi Sepuluh November)
- Selma UB (Universitas Brawijaya)
- UM Unej (Universitas Negeri Jember)
- UM Unud (Universitas Udayana)
- UMB-PT (Gabungan beberapa universitas)
- UTM IPB (Institut Pertanian Bogor)
Ternyata masih banyak sekali jalan untuk mendapatkan kursi di PTN. Gimana ceritanya? Bisa dibaca di postingan-postingan yang lain. Kalau masih belum ada, harap bersabar. Mungkin masih dalam tahap pengetikan :) (kuota modem terbatas hehehe)
Monday, September 9, 2013
Long Road #3 : SBMPTN
Nah, ini dia fase kedua dalam memperebutkan kursi di PTN. Setelah gagal di SNMPTN (baca: Long Road #2 : SNMPTN), aku mendaftarkan diri di jalur ini. Persaingan disini nggak semakin mudah. Selain bersaing melawan sesama angkatan 2013, aku juga harus melawan kakak-kakak kelas angkatan 2011 dan 2012. Mereka yang nggak dapat kursi PTN, atau yang kurang puas dengan jurusan mereka, kebanyakan akan "mengeroyok" jatah kursi bagi angkatan 2013. Persiapkan diri.
Setelah kegagalan di SNMPTN, aku melakukan banyak evaluasi. Aku mencari dimana letak kesalahanku. Bukan untuk diratapi, tapi dijadikan pelajaran. Jangan sampai dua kali jatuh di kesalahan yang sama. Dari sekian banyak evaluasi, semua mengerucut menjadi satu kesimpulan. "Keringat(usaha)ku belum cukup untuk mendapatkan kursi di PTN". Berdasarkan kesimpulan tersebut, semuanya harus lebih digenjot di SBMPTN. Selain itu, aku juga ngerasa, waktu yang mepet (antara pengumuman SNMPTN dan pelaksanaan SBMPTN) nggak akan cukup buat aku, biar keringatku bisa buat masuk kampus idaman, ITB. Karena ini, aku milih ITS sebagai destinasi di SBMPTN (padahal grade sama-sama tinggi hehe). Tapi masih tetap, teknik informatika yang jadi pilihan pertama :D Pilihan kedua teknik industri, ketiga teknik mesin.
![]() |
| Kartu Peserta SBMPTN |
Itu kartu pesertaku. Datanya lengkap disitu, jadi gausah dijelasin lagi. No HP nggak dipublish, tanya ke empunya langsung aja #eh hahaha.Kartu peserta itu salah satu perbekalan yang aku bawa ke medan pertempuran dibawah.
![]() |
| Medan Pertempuran |
Foto diatas adalah "medan pertempuran"ku di SBMPTN. Ya, salah satu kampus yang terletak di Surabaya Timur, Stikom. Aku nggak berjuang sendirian, Nurdin juga bertempur di kampus ini (aku lantai 3 gedung biru, Nurdin lantai 4 gedung merah). Dan selama 2 hari pelaksanaan, kita berangkat bareng (udah kayak saudara ya wkwk). Sebenarnya pelaksanaan SBMPTN nggak jauh beda dari pelaksanaan tes-tes lain. Datang - menunggu - masuk ruang - isi biodata - mengerjakan - pulang. Standar kan? Yang berkesan mungkin jam berangkat dari rumah (aku selama 2 hari PP Surabaya-Gresik). Dengan asumsi bahwa ribuan pejuang SBMPTN akan masuk Surabaya pada waktu yang bersamaan, kemungkinan besar macet. Karena itu aku (sama Nurdin) berangkat habis shubuh. Ya lumayan, di jalan itu dingin-dingin gimana gitu hahaha.
- Hari Pertama
Di hari pertama, yang diujikan adalah TPA (Tes Potensi Akademik) dan Kemampuan Dasar (Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris). Kalau membandingkan bobot, sepertinya hari pertama ini digunakan untuk pemanasan sebelum hari kedua. Tapi meski "cuma" pemanasan, tetap ada mapel yang menjadi titik lemah. Kalau mayoritas mengeluhkan matematika dasar, justru aku lemah di Bahasa Indonesia -_-. Entahlah, jawaban Bahasa Indonesia sering bikin bingung. Dan akhirnya juga nggak diisi karena ragu -___-
- Hari Kedua
Nah, ini dia. Hari kedua, jadwalnya ujian kemampuan IPA (Matematika IPA, Fisika, Kimia, dan Biologi) / kemampuan IPS (Sejarah, Geografi, Sosiologi, dan Ekonomi). Nah, ibarat game, hari kedua ini kalian akan ngelawan big boss. Karena hampir 100% akan setuju, kalau ujian di hari kedua lebih sulit daripada hari pertama. Karena hal ini juga, banyak bimbingan belajar yang lebih fokus pada ujian hari kedua daripada hari pertama.
Nggak ada tips khusus buat SBMPTN ini. Standar aja, LATIHAN. Soal SBMPTN ini kan tes tertulis, dan seleksi apapun yang tertulis pasti butuh latihan. Yah, mirip sama pepatah "Tak kenal maka tak sayang" gitu deh. Selain latihan, aku pakai ilmu "Datang, Kerjakan, Lupakan". Jadi setelah keluar dari ruangan, permasalahan selama pengerjaan (bingung, lupa rumus, pusing, kebelet kentut, dll) hanya tinggal kenangan. Saking dilupakanya, ketika koran ***** ngeluarin kunci jawaban resmi, aku nggak lihat. Biar hasilnya nanti menjadi sebuah kejutan :D hehe
Dan memang Tuhan memberikan apa yang telah kita persiapkan. Pada hari pengumuman, kejutan itu muncul. Tadaaaaa !
Sekali lagi, kata "maaf" terpampang dengan jelas di layar pengumuman. Ya, sekali lagi aku gagal mendapatkan sebuah kursi di PTN. Gimana rasanya? Jujur kecewa, tapi aku udah ngasih yang terbaik. Jadi apapun hasilnya, itu yang terbaik :D Pengalaman di SNMPTN benar-benar membantu. Butuh waktu sekitar 1-2 jam, "luka" ini sudah terobati. Setelah lukanya sembuh, langsung deh cari jalan lain.
"Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving" - Albert Einstein
Habis ini cerita di ujian-ujian mandiri. Percaya sama aku, cerita dan pengalaman ujian mandiri itu JAUH LEBIH SERU daripada SBMPTN, apalagi SNMPTN :D
Wednesday, September 4, 2013
Long Road #2 : SNMPTN
Ini dia gerbang pertama menuju PTN idaman. Mulai tahun 2013, seluruh lulusan SMA/sederajat dapat mengikuti jalur ini. Jadi pesaingnya, ya seangkatan seluruh Indonesia. Jalur ini juga jalur yang paling diingini hampir seluruh pendaftar. Alasannya simpel, tanpa tes (nggak perlu belajar lagi). Selain itu, biaya kuliah (UKT) mahasiswa yang masuk lewat jalur ini umumnya lebih murah dari jalur lainnya.
Karena semua bisa ikut dan tidak dipungut biaya (gratis), aku ikut jalur ini (toh nothing to lose juga). Awalnya, sekolah input nilai-nilai di rapot ke PDSS (Pangkalan Data Sekolah dan Siswa). Nilai-nilai inilah yang akan "mewakili" kita berjuang. Setelah sekolah selesai input, biasanya tiap siswa dianjurkan untuk mengecek ulang nilai yang telah di input. Ini untuk meminimalisir kemungkinan kesalahan input nilai yang bisa berujung pembatalan penerimaan mahasiswa baru (serem kan). Nah, setelah semua urusan PDSS selesai, siswa log in ke website SNMPTN. Disitu siswa mengisi data diri dan memilih jurusan pilihannya. Tahunku (2013), setiap siswa bisa milih maksimal 2 PTN, maksimal 2 jurusan di tiap PTN. Jadinya bisa milih 4 jurusan. Berhubung aku pengen masuk informatika, aku milih yang berhubungan dengan itu. Lihat kartu pesertaku aja deh biar jelas :D
Nah, itu kertu pesertaku di SNMPTN. Teknik informatika emang jadi bidikan utama. Pilihan kedua biasanya teknik mesin. Ini usul dari papaku yang dulu juga lulusan teknik mesin. Kalau melihat pilihan diatas, kebanyakan pasti mikir "Gile lu ndro, STEI sama informatika ITS itu gradenya tinggi banget" (sumpah banyak yang dulu bilang gini). Sekali lagi, di postingan sebelumnya aku udah bilang buat nggak main aman, apalagi ini jalur pertama. Aku ingin kampus terbaik. Aku nggak mau hanya main aman. Rata-rata nilai rapotku sekitar 86, jadi mungkin aku "bonek" untuk memilih STEI sebagai pilihan pertama. Tapi gak masalah, aku mengambil resiko itu. Seseorang pernah bilang "Berhati-hatilah ketika engkau merasa puas (aman), itu bisa menjadi awal kehancuranmu"
Oh iya, jika mendaftar melalui jalur ini, banyak guru yang menyarankan untuk memilih jurusan dimana terdapat kakak kelas yang berada di jurusan tersebut. Oke, itu nggak salah. Tapi juga nggak selamanya benar. Ada beberapa universitas yang hanya melihat nilai rapor. Mereka mengabaikan beberapa faktor di luar nilai rapot (akreditasi sekolah, adanya kakak kelas atau tidak, prestasi kakak kelas, dll). Mungkin apa yang aku tulis ini tidak diperkuat data valid. Tapi pengalaman di PTN pilihan satu, ditambah diskusi dengan beberapa kawan menghasilkan kesimpulan yang berwarna merah.
Setelah daftar, lumayan lama sampai hari pengumuman. Saat hari itu tiba, ini yang aku temukan pada layar monitor
Gimana rasanya? DOWN ! Mungkin ini titik terendah dalam 11 tahun perjalananku di pendidikan Indonesia. Aku buka pengumuman itu waktu maghrib, dan semalaman pikiranku kacau. Oke, aku galau malam itu. Untuk sedikit melupakan pengumuman itu, aku online di social media. Aku cari kabar dari kawan-kawan VECTOR. Ternyata dari 20, 8 anak lolos di jalur ini. Dan kabar gembira ini belum mengobati luka. Aku offline, dan mencoba tidur. Ternyata nggak semudah itu. Aku naik ke kasur jam 20.00, tapi baru bisa tidur jam 22.30. Selama 2,5 jam aku cuma berguling diatas kasur dengan pikiran kacau. Akhirnya aku tidur, dengan harapan mentari pagi bisa membawa harapan baru.
Keesokan harinya, bangun seperti biasa. Aku terdiam beberapa menit, dan aku ingat komitmen yang aku buat sendiri "Galau TIDAK BOLEH lebih dari semalam". Dan pagi itu juga, semangat itu kembali muncul dan membara. Next target : SBMPTN !
"Bukan hanya pahlawan yang mati satu, tumbuh seribu. Semangat juga harus begitu !" ;-)
Sunday, August 25, 2013
Long Road #1 : Pemilihan Jurusan
Memilih jurusan. Ini langkah paling awal untuk bertarung berebut kursi di PTN. Aku yakin banyak diantara kalian yang masih bingung, "Jurusan apa yang akan aku ambil?" "Di PTN mana sebaiknya aku kuliah?". Menurut pengalaman, 2 pertanyaan ini adalah pertanyaan yang paling banyak menghantui siswa/i kelas 12 dalam menentukan jurusan dan PTN (termasuk aku saat itu). Karena itu bersyukurlah, jika kamu telah menentukan tujuanmu dan yakin akan pilihanmu. Buat yang belum, segera. Karena semakin lama kamu berfikir, semakin sedikit waktu untuk mengenali dan mempelajari tujuan itu.
Aku dulu juga bingung mau ambil jurusan apa. Kalo orang tua sih pengennya aku masuk FK (kebanyakan juga begini), tapi aku gamau. Biologiku NOL bos, masuk FK sama aja bunuh diri -_- Akhirnya aku sempat ngambang dia awal kelas 12. Sampai akhirnya petunjuk itu datang hehe. Sekolah datengin alumni dari berbagai jurusan dan berbagai PTN di Indonesia dan siswa/i bebas mau tanya ataupun ngobrol sama alumni. Disini awalnya aku yakin buat milih teknik informatika. Aku ngobrol sama mbak-mbak dari sistem informasi ITS (mas-mas dari informatika ITS belum dateng). Dijelasin panjang x lebar x tinggi tentang sistem informasi, tapi aku nggak tertarik. Sampai akhirnya mas-mas informatika dateng, ngobrol deh sama dia. Kurang lebih seperti ini "Kamu suka matematika?" "Suka mas :D Fisika juga lumayan. Kimia sama biologi yang mengenaskan -_-" "Nah, pas ! Di informatika kamu say good bye to chemist and biology. Yang paling dibutuhkan itu logika buat programming" Saat itu aku masih belum tahu apapun tentang dunia programming. Tapi aku dominan otak kiri (logika), jadinya ga perlu mikir banyak aku langsung bertekad. "HARUS bisa nembus teknik informatika !" hehe
"Nggak segampang itu buat milih jurusan. Aku nggak mau salah pilih. Aku nggak mau nyesel seumur hidup." | Oke, pernyataan ini memang benar. Kita jangan sampai salah memilih jurusan, dan menyesal di kemudian hari. Tapi ingat bro, SMA cuma 3 tahun (untuk yang aksel malah 2 tahun), kelas 12 cuma 12 bulan (aksel cuma 8 bulan). Kelamaan mikir, kalah start. Karena suka atau tidak suka, waktu terus berputar :)
"Terus gimana? Kasih saran dong. Jangan cuma bisa nyela !" #jengjeng (dikasih tanda seru, biar dramatis dikit wkwk) | Menurut pengalaman (lagi), minta saran ke manapun, ke siapapun, jawabannya secara garis besar sama. Langsung aja wes, coba aku jabarkan satu-satu:
- Sesuaikan dengan minat dan bakat
Setahu saya, ini saran yang paling umum dan paling sering diberikan, karena memang benar. Saat menempuh perkuliahan, kita sudah bukan lagi siswa, kita MAHAsiswa. Kita nggak belajar banyak mata pelajaran seperti masa SD hingga SMA, kita belajar sesuai dengan jurusan yang kita pilih. Dan kalau kamu tidak betah dengan jurusan yang kamu pilih, kamu menyia-nyiakan waktu produktifmu.
"Terus gimana kalau bakat dan minat kita berbeda dengan kemauan orang tua?" | Ini masalah yang nggak kalah besar. Seringkali orang tua menginginkan anaknya masuk ke jurusan favorit (umumnya FK). Sedangkan si anak tidak berminat sama sekali masuk jurusan keinginan orang tua. Solusinya ada pada bagaimana kamu sebagai calon mahasiswa meyakinkan orang tua agar merestui pilihanmu sendiri (karena pada dasarnya tidak ada jurusan jelek. Sebuah jurusan didirikan dengan sebuah tujuan). Meyakinkan orang tua, minta petunjuk kepada Tuhan (istikharah), cari info di kakak kelas, semuanya butuh waktu. Karena itu, semakin cepat kamu menentukan tujuanmu, akan semakin baik.
- Tulis "kandidat" jurusan yang mungkin dipilih
Setelah mengetahui jurusan apa yang kira-kira kamu ambil, tulis semua kemungkinannya. Bandingkan mereka dalam satu media (umumnya kertas). Fase ini bisa dilakukan sendiri maupun dengan orang tua (diskusi). Lihat sebuah jurusan dari berbagai sisi. Jangan hanya terpaku pada passing grade. Usahakan fase ini memunculkan SATU jurusan yang hampir pasti kamu pilih. Kalau masih terdapat dua atau lebih kemungkinan, ulangi lagi hingga menjadi satu pilihan.
- Cari PTN yang memiliki jurusan pilihanmu
Sekarang kamu terlah memiliki jurusan tujuan. Langkah selanjutnya, cari PTN yang memiliki jurusan tujuanmu di dalamnya. Caranya mirip sama milih jurusan. Tulis aja kampus yang memiliki jurusan tujuan, terus eliminasi satu-satu. Sampai akhirnya dapat satu nama PTN. Ingat, milihnya jangan berdasarkan gengsi. Masih banyak bahan pertimbangan lain buat milih PTN daripada gengsi. Contohnya? Jarak dari kota asal, transportasi ke kampus, akreditasi, banyaknya beasiswa, sampai biaya hidup sekitar kampus ;)
- Silahkan berkenalan
Nah, kalo udah tau tujuannya kan enak. Sekarang waktunya kenalan sama tujuanmu :D Sebagian dari perkenalan sebenarnya sudah dilakukan pada langkah-langkah sebelumnya. Kenalan disini bertujuan untuk mengetahui apa dan bagaimana materi-materi awal yang akan diajarkan di jurusan yang kamu pilih. | "Buat apa? Aku kan masih harus nyiapin UN." | Betul. Dalam masa sebelum UN, kenalannya cuma sampai apa dan bagaimana. Namun setelah UN, disamping menyiapkan untuk SBMPTN, luangkanlah sedikit waktu untuk mempelajari materi awal kuliahmu. Kenapa? Startmu akan lebih mulus, ini bisa meningkatkan kepercayaan diri untuk menyongsong materi-materi berikutnya ;)
- Jangan "main aman"
Saat pemilihan jurusan, banyak sekali calon mahasiswa yang "bermain aman", dengan cara memilih jurusan dengan grade rendah (padahal ia tak berminat kesitu) agar peluang diterimanya lebih besar. Semua orang memang ingin dengan mudah diterima PTN. Tapi ya jangan ngrobanin bakan dan minatmu. Awalnya emang nggak masalah (kamu milih jurusan menyimpang dari bakat minat), tapi kalo udah keterima? Hampir pasti kamu tinggal. Kalaupun kamu terima, paling cuma satu tahun lalu kamu iut tes tulis lagi. Kasihan sama orang bener-bener yang ingin masuk jurusan yang kamu sia-siakan.
"Terus gimana?" | Di postingan sebelumnya aku udah bilang, "Berharaplah yang terbaik, tapi tetap persiapkan untuk yang terburuk". Tapi mempersiapkan yang terburuk ini bukan berarti ambil jurusan dengan grade super rendah, tetapi menyimpang dari bakat minatmu. Disini maksudku mempersiapkan, itu gimana rencanamu seumpama tidak lolos di salah satu jalur. Ilustrasi: Kamu berharap masuk lewat SNMPTN, nyatanya kamu nggak lolos di SNMPTN. Rencanamu gimana? Apakah belajar lagi untuk SBMPTN? Atau langsung kerja dengan ijazah SMA? Options are yours #InggrisDikit. Dan langkah-langkah ini yang harusnya dipersiapkan sejak awal, entah akhirnya dipakai ataupun tidak :)
- Eksekusi !
Semua persiapan udah kamu lakukan. Kamu udah tau bagaimana jurusan tujuanmu, berapa rata-rata peminat tiap tahun, seberapa ketat persaingan, dll. Sekarang waktunya eksekusi. Yang dimaksud eksekusi disini, persiapkan apapun yang kamu butuhkan untuk mencapai jurusan tujuanmu. Mulai dari kemampuan akademik, mental, sampai materi. Eksekusi ini adalah tindakan progresif untuk mencapai tujuan masing-masing. Umumnya, langkah ini yang paling berat. Tapi ingat. Tidak ada onggokan besi yang bisa menjadi pedang, tanpa melalui kerasnya proses penempaan ;)
Mungkin itu cerita + tips memilih jurusan dari aku. Tipsnya diambil dari wejangan yang diterima waktu itu, dan dikombinasikan dengan pengalaman setelah melaluinya. Tapi kalau kamu punya tips lain, yaudah nggak apa. Kan banyak jalan menuju kesuksesan :)
SELAMAT MEMILIH !
Sunday, August 18, 2013
Long Road : Kata Pengantar
"Pengalaman adalah guru yang paling baik"
Aku yakin setiap pembaca yang membaca tulisan ini pernah membaca kalimat diatas. Ya, kalimat diatas memang cukup populer di masyarakat Indonesia. Kali ini aku mau mencoba sharing pengalaman yang masih hangat, dan (mungkin) akan dilalui oleh seluruh pelajar SMA dan sederajat di Indonesia (tapi aku berharap perjalanan kalian tidak serumit apa yang aku lalui). Apa itu? Pengalaman berjuang merebut satu (ya, hanya SATU) kursi di PTN. Simpel bukan?
Untuk pembaca mahasiswa/i atau yang lebih senior, mungkin tulisan ini bisa mengingatkan kembali bagaimana perjuangan anda merebut satu kursi di PTN. Atau bahkan tulisan ini tidak berguna sama sekali bagi beberapa dari anda. Tapi yang pasti, aku hanya ingin membagi pengalaman yang aku lalui baru-baru ini. Semoga bisa membantu siswa/i SMA, terutama yang sudah kelas 12.
| Gambar 1 |
Aku yakin, semua dari kita (termasuk aku) berharap menjalani kehidupan seperti jalan diatas. Lancar, lurus, dan disuguhi pemandangan hijau sepanjang jalan serta hambatan yang minimal. Tapi ingat, manusia hanya bisa berharap dan berusaha. Ada kalanya jalan yang kita temui seperti gambar di bawah.
| Gambar 2 |
Sebuah jalan yang berliku, terjal, dan tanpa pemandangan indah yang menemani. Lalu bagaimana kita harus bersikap? Kalau menurut saya, setiap manusia memiliki hak untuk berharap yang terbaik (Gambar 1), namun tetap harus mempersiapkan diri untuk yang terburuk (Gambar 2).
Postingan ini belum termasuk sharing pengalaman, hanya sebagai pembuka dari rangkaian pengalaman-pengalaman mengejar PTN yang akan saya share di postingan-postingan berikutnya. Stay tuned :) wkwk
Subscribe to:
Posts (Atom)












































